Postingan

Menampilkan postingan dengan label Real Life

1 Tahun Menjadi Kepala Sekolah dan Cerita Kehidupan Selama Masa Pandemi COVID-19

Per 1 Juli 2020 kemarin, genap satu tahun saya menjalani tugas menjadi kepala sekolah di SDIT Darul Mukhlishin . Dalam kurun waktu yang tidak begitu lama tersebut, banyak hal terjadi yang menambah pengalaman saya dalam merencanakan, mengatur, serta memimpin program pendidikan yang kami berikan dalam konteks sekolah dasar. Antusias untuk melakukan beragam pembaharuan kegiatan belajar dan pembelajaran, serta mengoptimalkan program baik yang sudah berlangsung juga berada pada tingkat yang sedang tinggi-tingginya. Namun, 15 Maret 2020 dimulailah kegelisahan pendidik, sehubungan dengan keluarnya Surat Edaran Pemda Aceh Tamiang terkait proses Belajar dari Rumah (BDR). Sebenarnya, tidak ada keberatan yang berarti dari pihak sekolah kami jika pembelajaran dilakukan secara daring selama dua minggu untuk memutus rantai penyebaran COVID-19. Bahkan, kami antusias membuat proyek BDR menggunakan metode daring secara penuh.  Di hari pertama BDR secara daring dilaksanakan, banyak respon positif da...

Alumni Australia, Proyek Global, dan Menjadi Kepala Sekolah

Wah, sudah lama sekali saya tidak menulis diblog ini. Tulisan terakhir,  Seberapa Berani Kau Bermimpi,  yang bertanggal 29 Desember 2015 itu, adalah cerita terakhir yang saya bagikan sebelum saya memulai perkuliahan di Monash University, Australia. Soalnya, masa-masa belajar di Australia banyak dihabiskan untuk membaca dan menulis tugas kuliah, sih. Terutama tentang membaca. Saya rasa selama dua tahun kuliah di sana, jumlah bacaan saya baik yang bergenre ilmiah maupun tidak, jauh lebih banyak ketimbang empat tahun saya berkuliah sarjana. Jadi, saya sedikit memahami kenapa pemikiran-pemikiran hebat subur dan berkembangan di negara-negara bermazhab liberal arts seperti di Australia. Mari kita hitung secara matematis. Dijurusan Master of Education in Inclusive and Special Education  total ada delapan mata kuliah. Empat ditahun pertama dan sisanya ditahun kedua. Masing-masing mata kuliah memiliki jumlah tugas berupa esai akademik yang variatif.  Tapi, katakanlah, ...

Seberapa Berani Kau Bermimpi,

Akhir-akhir ini, hujan sering melanda kampung halaman saya, bahkan per hari ini ketika jam 10 tadi suasana sudah seperti menjelang maghrib saja. Mungkin juga demikian di beberapa daerah di Nusantara. Beberapa waktu lalu , saya menulis mengenai kesempatan untuk mencapai target yang telah diberikan oleh Sang Maha Agung kepada saya. Ditulisan kali ini, saya ingin memaparkan tentang target-target tersebut.  Sebagai seorang manusia, sudah selayaknya kita menikmati hidup yang telah dikarunai Allah semaksimal mungkin. Bagi saya, ketika seseorang menjalani kehidupan dalam koridor kodratinya sebagai manusia, itu sudah cukup. Terlepas apakah dia masih merintis, membangun, menciptakan, apapun istilah dan bahasan yang tersemat kepadanya - untuk tidak melihat sosok manusia dalam sudut pandang materialis. Kalian pernah mendengar ungkapan "jangan terlalu tinggi mimpi, nanti kalau jatuh sakit." atau ungkapan-ungkapan semacamnya. Saya memandang, ada pesan berupa pesimistis terangka...

Tak Ada Sesuatu yang Instan

Berawal dari realita yang belakangan ini harus saya hadapi, saya kembali tersadar setelah berulangkali mengkaji sebuah kata berikut pemaknaannya, yakni kata Instan. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional tahun 2002, kata Instan bermakna; langsung (tanpa dimasak lama) dapat diminum atau dimakan. Jika merujuk pada kondisi sosial-masyarakat, kata instan kerap terdengar dalam berbagai situasi dan kondisi, saya ambil contoh Kesukses Instan. Instan disini, tidaklah berarti sedang memasak sesuatu untuk diminum atau dimakan, ya walaupun memakan atau meminum itu sendiri dapat juga dipandang sebuah kesuksesan jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Namun, Instan disini lebih cenderung kepada mengerjakan sesuatu kegiatan yang sangat ringkas, sangat singkat, atau sangat cepat. Nah, kebetulan saya, beberapa bulan kebelakang ini mulai terkena virus-virus serba instan. Mungkin karena terlalu larut dalam re...

(Thrilling) Adventure to Sangka Pane

Gambar
Pagi tadi - Saya, Zamrud, Suheri, Sauza dan Ariel - memulai sebuah perjalanan dari pusat Kabupaten Aceh Tamiang menuju sebuah tempat yang memberikan  jamuan panorama alam yang - katanya - masih terbilang sangat alami. Sekitar 50an KM jarak tempuh yang kami lakukan, dan 2 jam lebih yang dibutuhkan untuk menempuh jarak tersebut. Kurang proporsional memang dengan jarak yang 50an KM ditempuh dengan waktu 2 jam lebih. Namun, jika kalian melihat "medan tempur" yang kami lewati, sungguh sesuatu tersebut dapat dikatakan sangat masuk akal, teramat sangat malah. Perjalanan yang kami lewati teramat melelahkan, menguras kekuatan fisik serta memberikan (sedikit) dampak kesehatan yang buruk. Terang saja, jalan yang kami lalui bagaikan hamparan padang debu yang berliku, menyisakan sedikit saja jalanan yang teraspal, tak sampai 1 KM malah. Perjalanan kami menuju Desa Bengkelang dan Pengidam, daerah yang menawarkan Air Terjun sebagai nilai jual wisata daerah tersebut. Sangka Pane, begitu...

Bermodalnya Sebuah Ide atau Gagasan!

Kemarin, hari ahad, dipagi nan cerah juga ditemani oleh cahaya matahari nan gagah, saya dan ayah saling bertukar argumen. Kejadian ini berlatarkan sebuah kandang sapi dan gubuk tempat pengembala menjaga sapi-sapinya tersebut, dalam artian yang sebenarnya. Ya, kami berlaga kata di kawasan kandang sapi! Jika ditelusuri rekam jejaknya mengapa kami tiba di tempat tersebut, yaitu tak lain dari sebuah project wirausaha yang sedang saya garap. Di tempat itu, kami berdua mengumpulkan pupuk kandang untuk nantinya dibawa pulang. Dan dimulailah laga penuh cerita tersebut. Saya yang sebenarnya ingin melakukan hal lain dihari tersebut, yang juga masih terkait dengan project tersebut, mengawali laga dengan berkata kepada ayah "Kenapa gak suruh orang lain aja ngumpulinnya, kan kita bisa kerjain hal lain, yah?" Ya, kurang lebih begitulah percakapan dimulai. Lalu, ayah saya membalas "Ya, kalo mau usaha harus mulai dari yang seperti ini, biar tau bagaimana rasanya melakukan hal...

Guru Itu (Wajib) Wirausahawan

Hampir berakhir bulan diawal tahun ini, namun saya belum juga menuliskan bahan lanjutan yang bisa dijadikan rangkaian kalimat membentuk sebuah tulisan yang dapat dinikmati, setidaknya oleh saya sendiri (Haha). Sebenarnya banyak waktu dan beberapa materi yang bisa saya jadikan tulisan, namun belum menemukan timing dan positioning yang tepat . (Halah!) Selain sekarang fokus dengan beberapa bahan yang nantinya angkat saya angkat untuk dijadikan riset, independen jika memungkinkan, saya juga masih sibuk dengan beberapa project lingkungan dan pekerjaan yang saya lakukan. Pekerjaan, ya benar. Saya - setidaknya hingga detik tulisan ini diturunkan - bukan tipikal orang yang suka mencari pekerjaan, dan berharap untuk menjadi pegawai nantinya. Disamping sudah terbiasa dengan kerja lepas, freelance istilahnya, ketika kuliah dulu, saya juga ingin merubah paradigma masyakarat, minimal di daerah saya, bahwa kerja itu harus pegawai/di kantor/di sekolah. Benar, paradigma yang sangat tradisional ...

Eigerku hilang, Eigerku malang

Gambar
Wuih, gara-gara terlena dengan yang katanya Tahun Baru, saya sampai-sampai lupa untuk memberikan sepatah duapatah postingan diblog ini. Ya berhubung juga dengan kondisi tubuh yang naik turun bagaikan mood seorang bipolar, dari fit ke titik drop terendah. Ya, saya sakit, cukup lama. Sebelum pergantian tahun, saya menyempatkan untuk pergi (lagi) ke Banda Aceh, guna menghadiri pernikahan kakak sepupu saya, yang diadakan tanggal 22 desember 2013 silam. Setelah sedikit banyak membantu persiapan dan kesiapan ketika hari H tiba, keesokan harinya saya terserang demam. Suhu tubuh berangsur menanjak hingga titik, aah saya lupa berapa tepatnya angka yang tercantum ditermometer, yang jelas saya panas tinggi. Kontan kondisi tubuh dan kesiapan fisik saya turun drastis, hingga titik terendah yang menyebabkan saya berada di pulau latex berhari-hari.  Niatan serta sedikit rencana yang telah saya susun sebelumnya untuk dilaksanakan seketika itu buyar, tanpa rekam jejak. Alhasil saya hanya m...

Olimpiade, Persiapan Atau Kejar Tayang?

Gambar
Huaaah...!!! Mungkin itu sebuah kata yang bisa membantu saya untuk mengungkapkan segenap perasaan yang ada dalam benak pikiran selama seminggu kebelakang. Betapa tidak, (cukup) banyak kegiatan yang saya lakukan dalam satu minggu ini yang menguras tenang, pikiran, kesehatan mental dan jiwa (nah!)  Perasaan yang tercipta juga beragam, senang, puas, lemas, dan ah begitulah tidak sedap rasanya mengungkapkan dengan beberapa rangkaian kata, biarlah itu semua menjadi rahasia saya (hoho). Dimulai dari kegiatan  solo-riding  yang mengawali minggu ini, menjadi supir buat kegiatan (sekolah) ayah selama sehari semalam dipertengahan minggunya, hingga pada hari ini sukses (membantu) penyelenggaraan sebuah seleksi olimpade matematika yang diselenggarakan oleh Turkey Billingual School, yang juga dikenal dengan Fatih atau juga PASIAD, Banda Aceh.  Dalam pembahasan kali ini, saya ingin membahas dan meninjau kegiatan yang diadakan tersebut, syarat manfaat!  Seleb...

An Inspiration On Solo-Riding

Gambar
Kemarin saya sukses berkendara ria, secara solo (bukan nama daerah), dari Medan menuju Aceh Tamiang. Saat itu sinar matahari menantang dengan tegasnya dan suasana haripun amatlah cerah, terang benderang. Berbeda dengan hari ini, yang sejak malam tadi, langit sudah menumpahkan curahan rahmat dari Allah yang membasahi sebagian bumi (Aceh Tamiang) ini. Mataharipun serasa enggan untuk menampakkan dirinya, dan lebih memilih untuk bersembunyi dibalik awan sana. Ah, sudahlah. Kali ini saya tidak ingin membahas cuaca yang berlangsung berikut sederet perkiraannya. Biarlah urusan tersebut menjadi lahan garapan BMKG, yang memang merupakan tugasnya untuk memperkirakan iklim cuaca yang terjadi di Indonesia. Pada bahasan kali ini, saya ingin memberikan salah satu cara untuk mendatangkan sebuah inspirasi (lagi), selain sebuah cara  yang saya paparkan sebelumnya tempo lalu. Al kisah, kemarin sore, yang mana keadaannya sudah sedikit saya paparkan diatas, saya berkendara dengan menggunakan ...

Taman Kota dan Sebuah Asa

Gambar
Ah, akhirnya setelah melewati masa-masa darurat sakit selama hampir dua hari, saya dapat melakukan aktivitas sehari-hari layaknya seorang pemuda tampan nan rupawan (eh!), maksud saya pemuda pada umumnya. Mengawali hari dengan melakukan aktivitas dengan agenda yang telah saya tuliskan dalam sebuah daftar sebagai daily activities, yakni jogging in the morning atau lari pagi. Sungguh senang menghirup udara pagi, ditemani oleh suasana pagi yang masih begitu asri, lengang dari hingar bingar kehidupan.  Saking rindunya dengan sensasi lari pagi, sayapun agak melebihkan jarak tempuh lari dari porsi biasa yang saya lakukan. Sekitar 150 meter saya tambahkan dalam kegiatan tadi pagi. Namanya juga baru sehat, sedikit-sedikit adalah perasaan berlebihan dalam mensyukuri sakit yang telah menghilang. Jauh hari sebelum saya mengalami sedikit kondisi yang kurang mengenakkan, oom saya ada berkata bahwa Kualasimpang akan memiliki taman kota. Pada saat itu tidak begitu memikirkan pernyataan te...